Jln. Banda Aceh–Medan, KM 192 Gampong Blang Mee Barat, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh
Kenapa Metode Pengajaran Kitab Kuning Masih Relevan di Era Modern?

Di tengah derasnya arus digitalisasi, muncul anggapan bahwa metode pengajaran kitab kuning telah tertinggal oleh zaman. Ketika pembelajaran kini didukung video interaktif, kecerdasan buatan (AI), hingga platform belajar daring, sistem seperti bandongan dan sorogan sering dipandang terlalu tradisional dan kurang efektif.
Namun, benarkah demikian?
Jika ukuran kemajuan pendidikan hanya didasarkan pada kecanggihan teknologi, mungkin anggapan tersebut terdengar masuk akal. Akan tetapi, apabila yang dijadikan ukuran adalah kualitas pemahaman, kemampuan berpikir, serta pembentukan karakter peserta didik, maka metode pengajaran kitab kuning justru masih memiliki relevansi yang kuat.
Belajar Bukan Sekadar Mengumpulkan Informasi
Era digital telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Jawaban atas berbagai persoalan kini dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik melalui mesin pencari atau aplikasi berbasis AI.
Sayangnya, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami informasi tersebut secara mendalam. Nicholas Carr (2010) dalam The Shallows menjelaskan bahwa internet memang mempercepat akses informasi, tetapi juga berpotensi mengurangi konsentrasi dan kedalaman berpikir apabila tidak digunakan secara bijaksana. UNESCO juga menegaskan bahwa pendidikan abad ke-21 memerlukan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital agar peserta didik mampu mengolah informasi secara benar (UNESCO, 2023).
Di sinilah letak keunggulan metode pengajaran kitab kuning. Santri tidak diajarkan untuk sekadar mengetahui isi sebuah kitab, tetapi juga memahami struktur bahasa, menelusuri alasan suatu pendapat, membandingkan argumentasi para ulama, hingga menarik kesimpulan berdasarkan kaidah yang benar. Dengan kata lain, yang dipelajari bukan hanya apa jawabannya, tetapi juga mengapa jawaban itu lahir.
Tradisional dalam Bentuk, Modern dalam Cara Berpikir
Tidak sedikit yang menganggap metode pesantren identik dengan hafalan. Padahal, hafalan hanyalah salah satu bagian kecil dari keseluruhan proses belajar. Dalam kajian fikih, misalnya, seorang santri tidak cukup hanya mengetahui hukum suatu persoalan. Ia juga harus memahami dalil, kaidah usul fikih, perbedaan pendapat antar ulama, serta alasan mengapa suatu pendapat lebih kuat dibandingkan pendapat lainnya.
Proses ini sejatinya melatih kemampuan analisis dan evaluasi, dua keterampilan yang saat ini dikenal sebagai berpikir kritis (critical thinking). Benjamin Bloom (1956) melalui Taksonomi Bloom, yang kemudian direvisi oleh Anderson dan Krathwohl (2001), menempatkan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi sebagai bagian dari keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Peter A. Facione (1990) juga menjelaskan bahwa berpikir kritis mencakup kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, dan penjelasan.
Ironisnya, kemampuan yang kini banyak dibicarakan dalam dunia pendidikan modern sebenarnya telah lama dipraktikkan dalam tradisi pesantren.
Guru Tetap Menjadi Pusat Keteladanan

Perkembangan teknologi memang mampu mempermudah akses terhadap ilmu pengetahuan. Akan tetapi, teknologi belum mampu menggantikan fungsi guru sebagai pendidik. Dalam tradisi kitab kuning, guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan adab, menunjukkan cara berpikir yang benar, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. UNESCO (2023) maupun OECD melalui berbagai kajian pendidikan menegaskan bahwa teknologi berfungsi sebagai pendukung pembelajaran, bukan pengganti peran guru. Hubungan antara guru dan peserta didik tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan.
Karena itu, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang selesai dipelajari, melainkan juga dari perubahan sikap dan karakter peserta didik. Hal ini sejalan dengan kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Inilah aspek pendidikan yang sulit digantikan oleh kecerdasan buatan ataupun video pembelajaran.
Menjawab Tantangan Era Informasi
Tantangan pendidikan saat ini bukan lagi minimnya informasi, melainkan melimpahnya informasi yang belum tentu benar.
Media sosial dipenuhi berbagai potongan dalil, kutipan, bahkan pendapat yang sering kali dilepaskan dari konteksnya. Tanpa kemampuan berpikir kritis, seseorang akan mudah menerima atau menyebarkan informasi yang keliru.
Metode pengajaran kitab kuning justru membiasakan peserta didik untuk memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan pendapat, dan berhati-hati sebelum menyimpulkan sesuatu. Kemampuan inilah yang juga ditekankan UNESCO sebagai bagian dari kompetensi literasi digital dan pembelajaran abad ke-21.
Kebiasaan intelektual seperti inilah yang sangat dibutuhkan di era digital.
Yang Perlu Berubah Bukan Nilainya, Melainkan Caranya
Tentu saja, metode pengajaran kitab kuning tidak berarti bebas dari kekurangan. Sebagian pesantren masih menghadapi tantangan dalam penggunaan media pembelajaran, variasi metode mengajar, maupun pemanfaatan teknologi.
Namun, solusi atas persoalan tersebut bukanlah meninggalkan metode kitab kuning, melainkan memperbarui strategi penyampaiannya.
Kitab dapat dipelajari melalui kelas daring, diproyeksikan menggunakan layar digital, dilengkapi kamus elektronik. Akan tetapi, proses memahami, berdiskusi, dan memperoleh bimbingan guru tetap menjadi inti pembelajaran.
Kesimpulan
Metode pengajaran kitab kuning telah bertahan selama berabad-abad bukan karena menolak perubahan, melainkan karena memiliki fondasi pendidikan yang kokoh. Kajian tentang pesantren oleh Zamakhsyari Dhofier (2011), Martin van Bruinessen (2012), dan Azyumardi Azra menunjukkan bahwa tradisi kitab kuning bukan sekadar mempertahankan warisan klasik, tetapi juga membangun budaya keilmuan yang menekankan pemahaman, adab, dan transmisi ilmu secara mendalam.
Metode ini tidak hanya melahirkan orang yang mampu membaca kitab, tetapi juga membentuk pribadi yang teliti, sabar, kritis, dan berakhlak.
Di era modern, pendidikan tidak seharusnya memilih antara tradisi atau teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya saling melengkapi. Teknologi dapat mempercepat akses terhadap ilmu, tetapi tradisi kitab kuning mengajarkan bagaimana ilmu itu dipahami, diuji, dan diamalkan dengan benar.
Mungkin inilah alasan mengapa, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, metode pengajaran kitab kuning tetap memiliki tempat yang penting dalam dunia pendidikan.
Oleh : Tgk Mukhtar Ibnu Nuruddin (Dewan Guru Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb))



