Jln. Banda Aceh–Medan, KM 192 Gampong Blang Mee Barat, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh

ANAK NAKAL? Kirim Ke Pesantren Saja!”Sering mendengar kalimat seperti ini?
Kalimat. “anak susah diatur, makanya saya kirim ke pesantren” muncul bukan tanpa alasan. Di Indonesia, khususnya di Aceh ada asusmsi kolektif masyarakat yang sudah lama terbentuk tentang pesantren:
• Pesantren di anggap “tempat cuci” bahkan rehabilitasi karakter • Pesantren bisa “menjinakkan” anak dengan aturan yang baku. • Kyai/ustadz/pengasuh itu sakti, bisa menangani anak seperti apapun.
Tidak heran akhirnya kalimat di atas banyak muncul di kalangan orang tua yang sudah frustasi menghadapi anaknya. Bahayanya, pola pikir ini sangat keliru dan perlu kita evaluasi
Pesantren =Lembaga Rehabilitasi.
Pesantren = Lembaga Pendidikan.
Fungsi utamanya untuk mendidik dan membina. Ketika anak punya trauma, kecanduan, atau gangguan perilaku yang kompleks. anakmu butuh pertolongan profesional. Bawa ke psikolog terdekat!,
Banvak quru dan pengasuh yang merasa kewalahan karena harus menangani anak-anak vang sebenarnya butuh
intervensi pSikologis
Kvai/ustadz/pengasuh bukan tenaga dan ahli terapi. Kecuali kalau memang mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikasi terapi tertentu.
Mereka juga bukan psikolog yang bisa mengetahui dengan jelas kendala dan gangguan psikologis yang dialami oleh anakmu.
Kyai/ustadz/pengasuh memiliki segudang kasih sayang dan niat mulia.
Tapi tanpa pemahaman terkait kebutuhan dan penanganan psikologis anak terkait trauma. kecanduan dan gangguan perilaku kompleks. pendekatan yang keliru bisa memperburuk kondisi anakmu.
Bukan salah mereka juga sebenarnya, bisa jadi karena ekspektasimu dan masyarakat yang terlalu besar. Berharap anakmu bisa “dicuci” hanya dengan dimasukkan ke pesantren.
Ketika ada anak vang memiliki perilaku agresif juga destruktif dikirim tanpa proses pendampingan dari profesional, santri lain bisa ikut terkena dampaknya.
Tumbuh dalam lingkungan pesantren seharusnya penuh rasa aman, tentram, dan bisa menguatkan.
Sehingga tidak jarang kita dengar kasus perundungan yang terjadi di dalam lembaga pendidikan pesantren.
Anakmu. bisa jadi bukan nakal. Dan para ilmuan tidak setuiu memberikan label “nakal” kepada para remaja.
Sering kali anak-anak ini sedang berusaha mengekspresikan perasaan yang mereka pun sulit dan terkendala untuk memahaminva.
Semakin keras kita menekan, semakin dalam mereka tenggelam.
Anakmu butuh tempat untuk bisa bisa dipahami, bukan tempat untuk merasa “dibuanq”.
Pesantren sangat memungkinkan untuk menjadi tempat yang mendukung perubahan. Tapi bukan menjad jalan pintas.
Apabila niatmu hanya agar anakmu “kapok dan jinak”, pendekatan yang digunakan bisa jadi keras dan memperburuk keadaan.
Prosesnya harus kolaboratif, kamu iuga harus mau terlibat sebagai orang tua. Jangan lupa, tentu dengan pendampingan profesional juga.
Banyak anak yang masuk pesantren tidak dengan kesadaran, tidak tahu alasan. bahkan merasa dipaksa oleh orang tuanya.
Padahal, keterlibatan anak dalam proses membuat keputusan bisa jadi awal perubahan yang iauh lebih sehat.
Anak perlu dilibatkan dalam keputusan besar tentang hidupnya, termasuk memilih lembaga pendidikan tempatnya ia belajar.
Orang tua juga sering memiliki harapan yang tidak masuk akal Berharap setelah mondok beberapa bulan, anaknya bisa langsung berubah menjadi saleh.
Padahal proses pertumbuhan dan perubahan butuh waktu pendampingan, dan konsistensi. Baik dari lembaga maupun dirimu sebagai orang tua.
Apabila anakmu punya tantangan dan kendala dalam perilaku, orang tua dan pesantren harus bisa ialan berbarengan.
Tidak lepas tangan. Tidak lempar masalah.
kolaborasi antara rumah dan lembaaa menjadi kunci
Jadi, yuk pastikan anakmu mendapat tempat belaiar yang tepat. tentu dengan pendekatan yang tepat juga 🙂
Penulis : Multazam



